Pages

Minggu, 09 Maret 2014

Flashback

"Kalo udah gede kamu mau jadi apa?""Aku mau jadi penulis""Kenapa?""Soalnya jadi penulis itu hebat...""Hebat kenapa?""Ya, hebat. Semua yang dirasain sama penulisnya bisa dirasain juga sama yang baca hehe. Kan buat jadi penulis gak perlu hebat buat ngeluarin argumen langsung pake pembicaraan. Penulis cukup nulis apa yang ada dipikirannya terus orang bisa ngerti deh apa yang dimaksud sama penulis itu. Hebat kan?""Oh iya iya. Terus apa lagi?""Ya gitu, penulis itu bisa ngerubah dunia pake tulisannya, bisa buat dunia pake tulisannya. Aku pengen banget jadi penulis hehe"

Dulu, pertama kali aku dihebohkan dengan kata-kata baru yaitu cita-cita,  aku berkata bahwa cita-cita itu milik orang dewasa; anak kecil itu cuman berharap dan berusaha untuk menjadi dewasa. Sejak taman kanak-kanak aku dan teman-temanku diajak untuk menggali apa yang ingin kami lakukan setelah dewasa dan akan menjadi apa setelah dewasa. Akan tetapi, yang terpenting cita-cita itu bukan timbul karena alasan untuk menjadi apa ketika kita besar nanti. Cita-cita itu adalah harapan dan alasan dari apa yang akan kita lakukan setelah besar nanti untuk diri kita dan orang-orang yang ada disekitar kita.

Dulu, pertama kali aku masuk ke sekolah dasar di daerahku, guru kelasku berkata "Nanti kalo udah gede mau jadi apa?". Perlahan-lahan aku dan anak-anak lainnya meneriakkan cita-cita yang besar dan yang kami tahu saat itu. Sejak sekolah dasar anak-anak kecil dibawa untuk menggali apa yang akan mereka lakukan setelah lulus sekolah dasar, masuk ke sekolah menengah pertama, lulus dan masuk ke sekolah menengah atas, memilih masuk keperguruan tinggi atau langsung menjadi bagian dari masyarakat luas. Anak-anak kecil pasti akan selalu menggambarkan cita-citanya dengan penuh warna, alasan dan harapan yang luas. Sedangkan setelah dewasa mereka perlahan-lahan mulai membangun cita-cita yang sebenarnya dengan alasan yang lebih konkrit dan lebih sempit. Akan tetapi percayalah apapun cita-cita dan harapan yang telah dibangun selama ini bukanlah hal yang sia-sia, cita-cita dan harapan adalah motivasi yang akan memberikan warna yang indah dan kekuatan yang hebat untuk menggapainya. Percayalah cita-cita itu ada untuk menjadikan kita sebagai masyarakat yang berguna dan menjadi anak-anak kecil yang bersemangat.

Dulu aku juga sering mendengar bahwa cita-cita itu menggambarkan apa yang ada didalam diri kita. "Gapailah cita-citamu setinggi langit", yaa gapailah setinggi mungkin dan lakukan yang terbaik atas apa yang telah kita cita-citakan. Jika kita berharap dengan jangka yang begitu panjang dan besar, maka perjuangan kitapun harus selalu berporsikan seperti apa cita-cita yang akan kita gapai. Kalaupun setelah dewasa cita-cita mulia kita dulu bukanlah jalan yang tepat, tetaplah berusaha.

Sejak SD dan SMP aku bercita-cita untuk menjadi seorang penulis. Banyak orang mengatakan untuk apa menjadi seorang penulis, alasan apa untuk aku bercita-cita untuk menjadi seorang penulis? Aku selalu menjawabnya dengan harapan besar bahwa aku berharap menjadi penulis karena penulis akan mempersempit lubang keegoisan dari argumen-argumen diri sendiri. Mengapa bisa mempersempit libang keegoisan? Ya, karena bukan hanya orang dewasa yang dapat menulis dan menyampaikan dunianya dalam tulisan, tetapi anak kecilpun bisa menuliskannya dengan baik dan menyampaikan dunianya diatas kertas. Menulis bagi diriku bukanlah sebuah pekerjaan, tetapi sebuah kesenangan dan kepuasan batin untuk menyampaikan apa yang tidak dapat aku sampaikan hanya denga kata-kata. Kalaupun sejak SMA aku perlahan-lahan mulai menggali diri apa yang sebenarnya ingin aku lakukan setelah besar nanti, penulis adalah kesenangan yang tidak dapat aku tinggalkan. Meski sekarang setelah lulus dan menjadi mahasiswa yang tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis, aku berusaha untuk tetap menulis dan membuat dunia yang ingin aku gambarkan...

Senin, 08 Juli 2013

Penaku Versi 1


Jalan mungkin tidak harus selalu terlihat lurus, terkadang ada begitu banyak persimpangan jalan di depan sana; terkadang ada beberapa saat dimana kaki kita akan tersandung akibat beberapa batu kecil; terkadang juga ada begitu banyak cerita yang menjadi sebuah kenangan berarti bagi masa depan kita selanjutnya.
Cinta, harapan, cita-cita dan kebahagiaan adalah hal yang lumrah yang selalu diinginkan manusia dalam hidup. Perjalanan untuk mencapainya mungkin terlalu berat, terlalu sulit dan terlalu fana. Ketika manusia ingin mendapatkan cinta, terkadang patah hatilah yang didapatkan. Saat manusia mengharapkan cita-cita dan harapan, terkadang kegagalan yang menjadi akhir perjuangannya. Ada pula saat manusia menginginkan kebahagiaan, terkadang kesedihanlah yang tergambarkan. Bukan manusia yang bersalah mengharapkan semua itu; bukan pula Tuhan yang menjadi alasan terburuk manusia tidak mendapatkan semuanya, hanya waktulah menjadi alasan terbesar mengapa kita tidak mendapatkan semua itu.
Cinta, harapan dan kebagaiaan…. saat semua itu diharapkan tetapi hanya ada patah hati, kegagalan dan kesedihan yang didapat bukan berarti manusia lantas harus menyerah dan menyalahkan segalanya. Alasan terbesar selanjutnya adalah cinta Tuhan kepada umat-NYA. Tuhan selalu memberikan hal yang terbaik yang selalu kita butuhkan walaupun hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Tuhan memberikan waktu untuk kita merasakan patah hati, kegagalan dan kesedihan terlebih dahulu agar kita dapat merasakan cinta, harapan dan kebagaiaan yang hakiki dari-NYA. Yakinlah pasti ada hal yang terindah di ujung jalan ini, walau sulit lakukanlah yang terbaik untuk apapun yang kita harapkan. 

First Post on http://fernaliahalim.tumblr.com

Versi Kehidupan

Kehidupan adalah pena, menggambarkan setiap kisah dilembaran putih pada kenangan memori dalam pikiran. Hidup.... apalah arti hidup tanpa sebuah makna? Hidup adalah memaknai dan dimaknai, membuat lembaran-lembaran kisah menuntun pena menjelaskan inilah makna hidup sebenarnya.

Kehidupan adalah jalan, jalan untuk menemukan hidup yang baik untuk setiap nafas dalam lingkaran kehidupan. Hidup bagaikan oksigen, setiap detik atas kehidupan inilah kita bernafas, menarik jalan lurus penuh arti.

Kehidupan adalah cinta, mengasihi satu sama lain, merelakan satu sama lain, merindukan satu sama lain, hingga akhirnya kehidupan mendekatkan cinta agar selalu bahagia menjalankan hidup penuh makna.

Kehidupan adalah cahaya, cahaya yang menerangi setiap jalan dan perbuatan untuk menemukan cita dalam setiap asa penuh keraguan. Penerang yang memberikan kehangatan pasa setiap nafas untuk selalu merasakan cinta.

Kehidupan seharusnya tidak pernah tersesali oleh setiap manusia, hanya inilah alasan kita tetap berjuang. Memperjuangkan hidup, memperjuangkan rasa dalam asa dan akhirnya menemukan akhir kehidupan yang baik :)


Sabtu, 15 Juni 2013

Do'a dan Malam

Setiap senja di ufuk barat
Setiap malam beradu sendu
Tangisnya seakan jerat memutus nadi
Memeluk erat bagaikan buih
Penghujung januari berlari-lari
Menekan sepi dalam jemari
Do’anya masih meraba
Tangisnya masih terasa
Tetes air mata bagaikan peri
Indah memancar dalam do’a
Mengucap dzikir dalam hati
Berubah terasa bagaikan pelita
Setiap lelah merubah senja
Peluknya erat dalam setiap do’a
Memanjat nasib kepada-Nya
Mengharap bahagia untuk kedua anaknya
Puisi untuk ibu; 07052013

First post on: http://fernaliahalim.tumblr.com/

Minggu, 12 Mei 2013

Comparison text


PASCAL AND C PROGRAMMING LANGUANGE



            Pascal programming language is similar to C programming language. Both Pascal and C are programming language which is included in high level programming language. Pascal programming language is one of programming language which is oriented to structural programming language. Like Pascal, C programming language is one of programming language which is oriented to it. Some people who know these programming languages always call it with procedural programming language, because both of them have the basic structure which is the important thing of the program. Moreover, Pascal and C are programming language which born from the oldest one of programming language. It was born from ALGOL (Algorithmic Language) programming language.
            Both Pascal and C have the function structure like if and else condition; switch and case condition; while, while-do, and for which are included in loop condition. Both of them have the execution from the program. The executions of these programs are known as .exe in the computer. While Pascal has three file to make the execution of the program and C just has one file to make it, but the executions are same. However, Pascal and C programming language are the famous structural programming language on the world.

EVEN IF IT TOO LONG


Even if it too long for me to describe it to you,
Even if it too hard for me to make it come true,
I’ll try my best …

Even if it will be on a thousand years,
Even if it will break like this teardrops,
I’ll try again …

Although you want break this again,
Although you will go away from me again,
This heart is still for you …

This is not some pieces of my appointments,
This is not some of my dreams,
But, this is true from me to you …

Created by : Fernalia

Fisrt post on: http://fernaliahalim.tumblr.com

Selasa, 07 Mei 2013

WHEN THE RAIN CAME


One day, when the rain came onto this cheek, this ache so full around my heart. I remembered the moment I was so happy with this, but till now it has made me pain.

One day, when the rain came into this heart, the memories was going somewhere where can’t I break it till now and it has made me full around of pain about you.

One day, when the rain came and this teardrops was making me so clumsy. I has known that you have been in love again. However, I couldn’t find it, I couldn’t find it as long as you found it…

One day, when the rain came and made me so awkward there. I was still by my self. Hope I could forget you …

First post on http://fernaliahalim.tumblr.com 

Selasa, 30 April 2013

The Special One: Cinta Tidak Selamanya Bersama.


Epilog; 
Masih begitu terasa dalam pikiran ini. Begitu nyata terngiang bentuk-bentuk kesakitan apa yang dirasakan. Hari itu hujan begitu lebat, begitu hebat menghembuskan debu-debu kecil yang berserakan disana. Hari itu begitu sunyi; sepi, disudut jalan itu terlukis raut wajah yang begitu lama ku cari. Disana, yaaa disana, disudut jalan itu aku lihat kembali wajah yang aku nanti; wajah yang selama ini aku rindukan.


The Special One: Cinta Tidak Selamanya Bersama.

“Everyone have the reason to love someone else.”

Sudah berjam-jam lamanya aku menunggu kedatangan temanku, hari itu adalah hari kamis, pertengahan bulan Oktober tahun 2010. Pagi tadi Nisya dan Naufi memintaku untuk menunggu mereka di bawah pohon di dekat ruang guru.

“Satu setengah ditambah dua puluh sama dengan, eeeeemmmm…”, aku begumam-gumam sendiri menghitung bagian-bagian tugas Matematika yang diberikan oleh bapak Iyat pagi tadi.
“empat puluh satu perdua…”, tiba-tiba ada suara yang mejawab gumamanku itu. Aku menoleh ke belakang, ternyata Nisya dan Naufi datang menghampiriku dan langsung saja duduk disebelahku.
“Eh, Nisya, Naufi… Kok mau dateng engga bilang-bilang sih. Kaget tau hehehe dikirain siapa itu yang ngejawab…”, sahutku.
“Hahaha, dasar… Makanya kalo ngerjain sesuatu itu jangan pake ngomong sendiri Fem”, jawab Naufi.
“Iyaaa, lagian kan kita udah janjian sama kamu Fem disini… Lama yaa?”, sambung Nisya.
“Iya nih kalian dari tadi ditungguin baru nonggol, udah lama nih nungguin kalian disini. Sendirian lagi hehehe”, Kataku panjang.
“Iya deh, iyaa… Maaf yaa Fema sayang hehe. Tadi kan kita rapat dulu…”, sahut Naufi. “Eh iya, kok tumben si Virina engga nemenin kamu? Pasti dia pulang duluan yaa? Aduuuuhhh kasian banget sih ditinggal sendirian..”, lanjutnya.
“Iya, tadi Virina pulang duluan Fi. Biasa nebeng sama Dista tuh…”, jawabku.
“Dasar itu anak haha, masih aja nebeng-nebeng…”, tanggap Nisya.
“Ya udah, ini tugas-tugas yang tadi dikasih pak Iyat sama bu Risti. Jangan lupa dikerjain ya, Besok udah dikumpulin lagi tuh.”, kataku.
“Iyee, iyee Fem. Tenang aja pasti kita kerjain kok. Ayo ah kita pulang, perutnya udah bunyi-bunyi tau dari tadi, udah pengen dikasih makan nih.”, sahut Nisya.
“Kak….”, tiba-tiba ada suara yang menghampiri kami bertiga. “Kak, buat program minggu depan apa lagi yang harus aku bantu?”, lanjutnya.
“Oh iyaa wan, nanti tolong dibimbing temen-temen kamu yang lain supaya lebih terkondisikan ya buat acaranya nanti.”, Nisya menjawabnya.
“Oke kak kalo gitu, makasih ya kak… Irwan duluan ya kak”, sahut laki-laki itu.
“Oh iya.. iya wan…”, sahut Nisya.
“Ih ayo kita juga pulang, udah jam berapa ini.”, kata Naufi.

~~~

Diperjalanan pulang ke rumah, untuk pertama kalinya aku mengingat-ingat sesuatu. Entahlah, selalu saja ada yang harus aku ingat walau tidak ada hal yang perlu aku ingat. Maklumlah, jiwa sensitif seperti ini selalu merasuk kedalam pikiranku, membuat aku harus berpikir setiap saat.Tiba-tiba teringat dalam memoriku laki-laki itu. Laki-laki yang baru saja menghampiri kami bertiga.

“Siapa sih yang tadi itu Nis ? Pasti ade kelas ya? Kok kayanya sering liat juga ya, kemana-mana pasti liat itu anak hehe”, tanyaku.
“Iya Fem, dia itu wakilnya Aji.. Rajin tuh anaknya. Kenapa Fem?”, Sahut Nisya.
“Oh yaa? Emmm… baguslah Nis rajin, kan wakilnya ketua hehe… Ah engga papa kok Nis cuman nanya aja”, jawabku. “Eh tapi lucu juga ya, alo senyumciri khasnya tuh keluar banget Nis..”, lanjutku.
“Ah, hahaha iya sih Fem.. Jangan-jangan lagi nih anak. Suka ya?”, canda Nisya.
“Loh enggalah Nis, suka aja tuh kalo merhatiin dia senyum, apalagi kan sering liat itu anaknya.”, bantahku.
“Ah… suka juga ga papa kok. Udah deh nanti aku salamin aja ya.”, kata Nisya.
“Eh, eh.. Jangan dong jangan Nis.”, sahutku.

~~~
Akhir bulan Oktober 2010
Setelah percakapanku dengan Nisya pertengahan bulan November itu, akhirnya Naufi dan Virina berusaha untuk mendekatkanku dengan Irwan. Padahal, sudah berkali-kali aku hanya mengaguminya sekilas lalu. Ya apa boleh buat, sejak percakapan tentang Irwan itu dimulai pun Irwan sudah berkali-kali memergokiku memperhatikannya. Bahkan bukan hanya itu, Irwan pun lebih memperhatikan aku dibandingkan sebelumnya. Sebaliknya, aku hanya memperhatikan Irwan karena begitu sering melihatnya. 

“Assalamu’alaikum kak, maaf ini sama kak Fema kan?”, pesan singkat ini membuatku yakin pasti Irwan yang mengirimkannya untukku.
“Wa’alaikumsalam, iya. Maaf ya ini sama siapa?”, aku menjawab pesan singkat itu dan pura-pura tidak mengetahui bahwa yang mengiri pesan singkat itu adalah Irwan.
“Ini Irwan kak. Kakak lagi apa?”
“Lagi belajar Wan, Irwan sendiri lagi apa?”
“Wah, maaf ya Kak jadi ganggu Kakaknya lagi belajar. Diterusin lagi aja Kak belajarnya.”
“Gak papa kok Wan. Ini juga udah mau selesai belajarnya. Oh iya, Irwan itu kelas apa ya?”
“Yang bener nih Kak? Aku kelas X.3 Kak.. Kakak ini temennya Kak Nisya sama Kak Naufi ya? Kelas XI IPA 3 kan Kak?
“Iya Wan, aku temennya Nisya sama Naufi, bukan temen lagi malahan.. Kita udah sahabatan lama banget hehe”
“Oh gitu ya Kak. Pantesan deket banget sama Kak Nisya sama Kak Naufi.. Kakak ini rumahnya dimana ya?”
“Aku masih di Parungkuda juga Wan, deket banget rumahnya sama Nisya. Irwan?”
“Rumah aku jauh banget Kak dari sekolah… Hampir perbatasan sama kabupaten Bogor Kak.”
“Loh, terus kalo berangkat sekolah dari sana jam berapa Wan? Suka telat engga itu?”
“Alhamdulilah engga kok Kak, yaaa… sekitar setengah jam Kak dari rumah kalo cepet.”
“Kok jauh-jauh sekolahnya sampe ke Parungkuda Wan?”
“Hehe engga papa Kak, mau aja.. Oh iya Kak, beneran kan Irwan engga ganggu Kakak?”
“Oh gitu, hehe hebat ya engga telat sampe sekolahnya. Iya Wan beneran kok.. Tapi maaf ya Wan ditinggal mau ngerjain yang lain.”
“Oh iya Kak, makasih ya Kak…”
“Loh, makasih buat apa?”
“Buat waktunya Kak…”

Entahlah, percakapan singkat melalui pesan singkat antara aku dan Irwan membuat aku cepat terbuka kepada dia. Bahkan, percakapan-percakapan kecil itu membuat aku sering tersipu malu entahlah mengapa…

1 Hari sejak Irwan mengirimkan pesan singkatnya yang pertama, Irwan begitu terbuka atas segala kehidupannya. 1 Hari sejak Irwan mengirimkan pesan singkat perdananya, aku sering menunggu kabarnya setiap hari melalui pesan singkat itu. 1 Hari sejak Irwan mengirimkan pesan singkatnya itu, aku mulai menyukainya.

Awal bulan November 2010
Siang itu setelah aku keluar dari kelas terakhirku, Irwan menungguku di depan sekolah. Sejak malam tadi, Irwan memintaku untuk meluangkan sedikit waktuku. Satu persatu langkahku tujukan ke tempat yang telah kami janjikan bersama. Irwan ternyata sudah disana, aku lihat sosoknya disana, sendiri menungguku. Entah mengapa rasanya begitu bahagia melihatnya disana.

“Kak udah pulang?”, tanya Irwan.
“Iya Wan, baru aja. Udah lama disini?”, sahutku.
“Eh engga Kak, engga terlalu lama kok…”, jawabnya.
“Ada apa Wan? katanya mau bilang sesuatu?”, tanyaku kembali.
“Eeee, iya Kak. Kak bolehkan aku jadi pacarnya Kakak?”, kata Irwan.
“Hah, apa Wan? Emmm… Gimana yaa Wan?”, jawabku.
“Iya Kak, apa dong? Pleaseeee jawab ya Kak…”, pintanya.
“Eeee… Iyaa deh…”, jawabku dengan nada rendah, rendah sekali.
“Apa Kak?”, tanya Irwan kembali.
“Apa apa Wan? Kan jawabannya iya”, sahutku.
“Iya apa Kak?”, tanyanya.
“Yaaaa… Iya iya Wan”, sahutku dengan polos.
“Hehe, iya mau atau iya engga Kak?”, kata Irwan.
“Eeeee.. Iya mau Irwan!!!”, dengan jelas aku jawab pertanyaannya.
“Hehe gitu dong Kak, jadi engga buat bingung…”, candanya.
“Iya Irwan… Ya udah masih ada yang mau diomongin lagi gak nih Wan? Kalo engga aku mau pulang ini”, kataku.
“Iya udah kok Kak, oke Kak. Hati-hati ya Kak dijalan pulangnya. Maaf aku engga bisa anterin nih kak, soalnya ada rapat Kak”, jawab Irwan.
“Iya Wan engga papa kok hehe”, sahutku.
“Ya udah Kak, nanti aku sms ya Kak”, kata Irwan.

~~~

Seteah kejadian diawal bulan November itu, kami menjalin hubungan dengan baik dan lebih baik lagi. Kami berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun. Kami menjalaninya dengan bahagia, merajut impian bersama, menyingsing cita-cita bersama dengan satu alasan yaitu kebersamaan dan kasih sayang.

Aku dan Irwan tetap bahagia. Walau aku tau Irwan bukan seperti laki-laki yang lain, tetapi sosok laki-laki seperti Irwanlah yang membuatku semakin semangat untuk merajut semua mimpi-mimpi ini menjadi kenyataan. Sosok seperti Irwanlah yang membuat aku yakin bahwa bersamanyalah aku dapat meraih semuanya dengan kekuatan yang begitu luar biasa. Irwan adalah orang yang hebat bagi aku dan aku harus menjadi orang yang hebat pula bagi dirinya.
Hari-hari bersama Irwan begitu berharga bagi diriku, karena Irwan mengajarkanku banyak hal. Irwan mengajarkan aku untuk menjadi wanita yang lebih kuat, Irwan yang mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan Irwanlah yang membuat aku semakin ingin membuktikan diriku bahwa aku dapat menjadi wanita yang hebat bagi dirinya.
Mei 2012
1 tahun lebih kami telah bersama dan kebrsamaan itu membuat aku semakin yakin bahwa aku telah menemukan cintaku yang pertama. Ya, Irwan adalah cintaku yang pertama. Irwan adalah sosok yang begitu cemerlang dihati ini. Irwan adalah sosok yang aku kasihi begitu dalam disini, dihati dan jiwaku. Sungguh aku mencintainya dan mengasihinya.

1 tahun lebih kami bersama, dalam kebersamaanku bersama Irwan, begitu banyak batu krikil yang kami hempaskan. Tetapi ada beberapa krikil yang sampai saat itu tidak bisa kami hempaskan. Walau berjalan tertatih kami coba lalui itu. Mei 2012 adalah puncak dari segalanya. Bulan itu aku lulus dari sekolahku, namun dalam kebahagiaanku itu Irwan memutuskan untuk tidak lagi bersamaku. Irwan meninggalkanku…

Mei 2012; semuanya berubah begitu saja, keyakinanku terhadapnya pupus hanya dengan kata-kata “Aku engga bisa lagi sama kamu”. Begitu lama aku terpuruk, begitu susah kembali membangun perasaan yang sama terhadap orang lain bahkan terhadapnya kali itu. Aku rapuh…

Irwan mengatakan kepadaku bahwa aku harus sekuat duri mawar. Irwan mengatakan kepadaku bahwa aku harus setangguh batu karang.  Namun kata-kata itu membuatku semakin sakit, karena harus berusaha menghilangkan perasaan itu dengan cepatnya. 
November 2012
Berbulan-bulan setelah kejadian di bulan Mei, aku masih saja memikirkannya. Walau Irwan saat itu sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya denga cepat, aku bahkan tidak mengisinya dengan apapun selain kenangan-kenangan bersama Irwan.

Masih begitu terasa dalam pikiran ini. Begitu nyata terngiang bentuk-bentuk kesakitan apa yang dirasakan. Hari itu hujan begitu lebat, begitu hebat menghembuskan debu-debu kecil yang berserakan disana. Hari itu begitu sunyi; sepi, disudut jalan itu terlukis raut wajah yang begitu lama ku cari. Disana, yaaa disana, disudut jalan itu aku lihat kembali wajah yang aku nanti; wajah yang selama ini aku rindukan. Ya, itu Irwan… Namun dia begitu berbeda, dia tidak lagi seperti dulul; dia telah menemukan cintanya yang baru saat ini.

“Oh Irwan, aku masih sangat mencintaimu…” 



First post on: http://fernaliahalim.tumblr.com

Minggu, 17 Maret 2013

CINTA #2

Sudah aku yakini bertahun-tahun, berbulan-bulan yang lalu, cinta memang tidak semudah yang kita perkirakan. Kadang cinta itu sulit untuk dikatakan, sulit untuk dirasakan bahwa sulit untuk kita pahami. Cinta begitu sederhana sehingga sulit untuk dipecahkan secara kompleks. Hari ini, 17 Maret 2013 masih sangat jelas aku rasakan, bahwa cinta itu bagaikan putih tidak terlihat apapun, tidak berwujud apapun dan tidak terasa apapun. Cinta itu terkadang seperti hitam, membelenggu satu jiwa dan membutakan kebenaran, membutakan kejujuran, bahkan membutakan keadilan. Ya, cinta itu akan menjadi hitam saat cinta itu tidak dikendalikan atas dasar bagaimana kita akan kembali dengan cinta itu sendiri.

Kali ini, aku rasakan betul cinta itu begitu sederhana. Cinta itu sulit dibutakan asa, namun terkadang seperti asa itu sendiri. Cinta itu adalah titik, bulat dan tidak akan ada akhirnya. Cinta itu bukan logika, melainkan seni terindah didunia, begitu abstrak untuk dikatakan, begitu fana untuk dibayangkan, begitu indah seperti ribuan nilai estetika merasuk pada setiap individu yang merasakannya.

Hari ini aku belajar, belajar mencintai seseorang dengan baik dan akan lebih baik lagi untuk mencintainya. Hari ini aku sadar, menyadari bahwa aku begitu mencintai sosok ini sehingga begitu sulit untuk aku bernafas saat melihatnya menangis karena hal yang dicintainya. Hari ini aku rasakan, merasakan cinta yang tidak akan pernah habis dan akan selalu besar untuknya. Cinta yang tidak berbatas usia, cinta yang tidak berbatas waktu, cinta yang tidak akan berbatas oleh kematian, cinta yang tidak berbatas agama atau apapun itu. Inilah cintaku padamu wahai ayahandaku ..

Begitu sulit oh ayah, begitu sulit aku yakini kejadian hari ini atau kejadian-kejadian sebelum ini yang telah menimpa kita. Menimpa surga kecil kita. Maafkan aku ayah, sering kali aku salahkan sosokmu hanya karena kita tidak seiman. Maafkan aku ayah atas semua yang telah aku lakukan, membebani pundakmu, membuatmu marah akan sikap-sikapku. Maafkan aku ..

Ayah, maafkan aku karena aku baru menyadari bahwa kehilanga sesuatu yang kau cinta adalah cobaan terbesar bagimu. Tapi yakinlah pada anakmu ini oh wahai ayahku, yakinlah bahwa aku selalu mencintaimu walau cinta ini bukan seperti cintamu terhadap sosok yang kau cintai itu. Kami selalu mencintaimu ..

Ayah taukah bahwa kami selalu merindukan sosokmu, sosokmu yang terkadang keras terhadap kami. Tapi kami tau kau lakukan karena kau mencintai kami dengan sebaik-baiknya. Ayah kami akan selalu belajar dan terus belajar untuk lebih mencintaimu dengan cara kami. Kami menyayangimu selalu dan selamanya ..

Rabu, 02 Januari 2013

Samudera kisahku


Dunia mungkin terkadang tidak seindah yang terbayangkan, tidak sesederhana kelihatannya, selalu ada kisah yang tidak seindah yang pernah kita bayangkan saat kanak-kanak, bahkan tidak sesederhana yang kita hayalkan saat dulu kita masih beranjak dewasa. Hidup itu bagaikan samudera besar yang tidak hanya dapat diarungi seorang diri. Hidup itu bagaikan langit diatas sana yang tidak dapat dibayangkan sejauh mana kita memandang. Ya, hidup itu adalah jalan-jalan besar maupun jalan-jalan kecil yang tidak pernah kita tahu ujungnya seperti apa. Hari ini adalah hari ke-2 di bulan Januari 2013, masih teringat kisah-kisah dulu yang aku alami saat bersama teman-teman SMA-ku dan kenangan-kenangan masa remajaku. Masih teringat juga kisah-kisah lama bersama seseorang yang pernah aku kasihi dulu, samudera yang pernah aku arungi bersama seseorang itu. Sering aku sesali mengapa bayangan ini terlalu nyata untuk aku bayangkan, tapi terkadang terlalu semu untuk aku yakini. Samudera kisahku yang ku arungi bersamamu adalah hari-hari yang luar biasa, kau labuhkan aku dipersinggahan kasih yang tidak pernah aku rasakan bahkan aku coba sebelumnya.

Dulu aku mungkin terlalu egois atau terlalu memaksakan hingga akhirnya seperti ini. Entahlah, tapi aku hanya ingin melupakan kisah-kisah itu. Kau terlalu jauh untuk aku raih, ya Allah biarkan aku meremaskan kisah-kisah ini, menghanyutkannya kembali ke samudera yang luas ini hingga akhirnya aku arungi kisah yang baru bersama lingkunganku saat ini. Biarkan aku yang lemah ini berada didekapan-MU kembali mengarungi samudera hidup ini dengan penuh semangat. Biarkan aku yang dulu tidak pernah mengingat dan merasakan hal yang seperti ini. Ya Allah kuatkanlah hati ini, buatlah hati ini ikhlas atas apa yang telah kau berikan, berikan aku kekuatan untuk tetap menatap masa depan, jauhkan aku dari rasa iri dan dengki, berikan aku jiwa untuk memaafkan dan kembalikan aku :)

Jumat, 16 November 2012

KESENIAN WAYANG


BAB 1 PENDAHULUAN
                                        
1.1                        Latar Belakang
Wayang merupakan salah satu kebudayaan yang telah lahir sejak lama. Berkembang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan etis dan estetis manusia-manusia di dunia. Wayang yang hadir dalam perkembangan masa dan zaman telah mengubah pemikiran manusia, baik dalam moral, pemikiran, dan kehidupan. Lahir untuk Wahana Pendidikan Watak. Pertama, pertunjukan waynag itu sendiri merupakan alat pendidikan watak menawarkan metode pendidikan yang amat menarik. Karena wayang mengajarkan ajran dan nilai-nilainya tidak secara dogmatis sebagai suatu indoktrinasi, tetapi ia menawarkan ajaran dan nilai-nilai itu; terserah kepada penonton (masyarakat dan individu-individu) sendiri untuk menafsirkannya, menilai dan memilih ajran dan nilai-nilai mana yang sesuai dengan pribadi atau hidup mereka. Selanjutnya wayang mengajarkan ajaran dan nilai-nilai itu tidak secara teoretis saja (berupa ajaran dan nilai-nilai) melainkan secara konkret dengan menghadirkan kehidupan tokoh-tokohnya yang konkret sebagai teladan. Waynag juga tidak mengajarkan ajaran dan nilai-nilai itu secara kaku atau akademis, melinkan disamping mengajak penonton untuk berpikir dan mencari sendiri (sebagai dilambangkan adegan wayang golek diakhir pertunjukkan), ia juga mendidik penonton melalui hati/rasanya dengan jalan adegan-adegan lucunya, adegan mengharukan atau menyentuh hati, membuat hati geram, dan lain-lain. Dengan demikian, dapat dikatakan, metode pendidikan watak yang dipakai dalam pertunjukkan wayang adalah metode total tetapi nonformal. Kedua, materi pendidikan watak yang ada dalam wayang (berupa lakon-lakon, tokoh-tokoh dan ajaran serta nilai-nilainya) dapat digunakan bagi pendidik watak dengan metode lain, seperti pendidikan agama, PMP (pendidikan moral pancasila), dan lain-lain.

1.2 Tujuan
            Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, kami sebagai penulis memiliki tujuan-tujuan tertentu. Diantaranya:
·         Untuk memenuhi tugas mata pelajaran bahasa Indonesia
·         Untuk menambah wawasan kesenian wayang
·         Untuk menambah kecakapan dalam pembuatan karya tukis ilmiah
·         Belajar untuk bertanggung jawab mengenai isi karya tulis ilmiah dalam seminar

1.3 Metode                                                             
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, kami sebagai penulis menggunakan metode Observasi dan pencarian-pencarian sumber-sumber mengenai pembahasan ini. Secara terperinci, kegiatan pencarian sumber-sumber tersebut adalah:
·         Selasa, 18 Jnuari 2011, mencari sumber di perpustakaan SMAN 1 Parungkuda.
·         Minggu, 23 Januari 2011, mencari sumber di internet.
·         Selasa, 25 Januari 2011, awal penyusunan karya tulis ilmiah.
·         Jumat, 28 Januari 2011, akhir penyusunan karya tulis ilmiah.
·   Sabtu, 29 Janurai 2011, pengopyan isi dari pembahasan karya tulis ilmiah dan pembagian isi pembahasan kepada ketua kelompok yang lain.

BAB 2 WAYANG

2.1 Asal Usul Wayang
            Asal Usul Wayang dalam dunia Universal, memiliki kerancuan dalam menentukannya. Sementara beberapa Sarjana mengatakan, wayang berasal dari India, ada juga yang mengatakan dari Indonesia (Jawa), lainnya lagi menyatakan bahwa wayang merupakan produk Hindu-Jawa. Kebalauan ini disebabkan beberapa hal. Pertama, sedikitnya data kongkret tentang asal usul wayang. Kedua, berbedanya disiplin ilmu yang dipakai untuk mendekati masalah. Ketiga, adanya unsur-unsur non-ilmiah yang masuk dalam mendekati masalah. Dan keempat, perbedaan konsep tentang apa yang dimaksud dengan “asal usul”.
            Miskinnya data mengakibatkan sulitnya menentukan apakah wayang berasal dari India, Indonesia, atau tempat lain. Andaikata berasal dari India bukti tentang ini hampir tidak ada, karena bentuk wayang Hindu lama ini tidak pernah diketahui. Kata Sanskrit Chayana Nataka yang berarti teather menggunakan bayangan (Shadow play) tidak pernah disebut dalam Natya Sastra atau karya-karya sastra Hindu yang lain. Sedang kata rupa rupakam yang muncul dalam teks-teks Budha pada Tahun 1 S.M. Andai kata wayang berasal dari China, seperti kata Goslings (Moeburman:210) bukti tentang hubungan wayang Ying-hi dengan penyembahan kepada nenek moyangpun tidak ada. Andaikata wayang berasal dari upacara keagamaan yang paling tua yang mirip upacara dewa di Irian Jaya, seperti kata Rassers (Moeburman:21) bukti-bukti tentang ini juga hampir tidak ada. Juga persangkaan tentang asal usul wayang dari Asia tengah yang kemudian menyebar sampai ke India, Cina, dan Asia tenggara seperti kata Brandon (hlm.4) tidak disertai dengan bukti-bukti yang lengkap.
“Sesuatu ekspresi kemanusiaan tak dapat dipisahkan dari kultur yang menghidupinya, karena ia mempunyai arti apabila ia berfungsi dalam struktur social masyarakat dari kultur itu (koentjaraningrat). Kalau teori ini diterapkan pada teori tentang asal usul wayang, maka wayang tentunya berasal dari Jawa karena Wayang hidup dan berfungsi dalam masyarakat Jawa saja.”1

2.2 Perkembangan Wayang
            Meskipun asal usul wayang belum dapat ditentukan dengan pasti, namun penulis-penulis Indonesia cenderung mengikuti teori Hazeau   yang  mengatakan wayang berasal dari suatu upacara keagamaan untuk memuja arwah nenek moyang yang disebut Hyang. Atas dasar ini mereka kemudian menyusun suatu periodisasi perkembangan wayang di Indonesia. Berdasarkan sumber karangan Mulyono (1978; 296-306) berikut ini diikhtisarkan perkembangan Wayang.

2.2.1 Zaman Prasejarah
            Mulyono mengikuti teori Hazeau bahwa pertunjukan wayang yang mula-mula berfungsi magis-mitos-religius, sebagai upacara pemujaan pada arwah nenek moyang yang disebut “Hyang”. Kedatangan arwah nenek moyang ini diwujudkan dalam bentuk bayangan, dan mereka dating oleh karena diminta memberikan restu atatu pertolongan. Dalam bentuknya yang mula-mula wayang dibuat dari kulit dan menggambarkan arwah nenek moyang. Lakon wayang menceritakan kepahlawanan dan petualangan nenek moyang. Pertunjukan biasanya diadakan pada malam hari di rumah, halaman rumah atau tempat yang dianggap keramat. Dengan menggunakan bahasa Jawa kuno murni.

2.2.2 Zaman Jawa Timur
          Pertunjukan wayang kulit purwa atau zaman ini sudah mencapai bentuk yang sempurna sehingga dapat mengharukan hati para penontonnya. Wayang daun rontal dibuat pada tahun 939 menggambarkan para dewa, ksatria,dan Pandawa. Nama Semar baru terdapat pada kitab Sudamala ( Candi Sukun 1440) dan kitab Naworuci (abad XV). Wayang beber purwa yang dibuat dari kertas dan menggunakan gamelan slendro terdapat pada tahun 1361. pertunjukan wayang pada zaman ini sama seperti pertunjukan pada zaman prasejarah dan bahasa yang digunakan bahasa Jawa Kuno dengan kata-kata Sansekerta.

2.2.3 Zaman Kedatangan Islam
          Pada zaman ini wayang berfungsi sebagai alat dakwah, alat pendidikan dan komunikasi, sumber sastra dan budaya, dan sebagai hiburan. Cerita diambil dari cerita-cerita Babad, yakni percampuradukan antara epos Ramayana/Mahabrata versi Indonesia dengan cerita-cerita Arab/Islam. Wayang berbentuk pipih menyerupai bentuk bayangan seperti yang kita lihat sekarang. Pertunjukan wayang dipimpin oleh seorang dalang. Jumlah wayang ditambah, antara lain wayang Betara Guru, Buta Cakil, dan lain-lainnya. Pertunjukan diadakan pada malam hari selama semalam penuh. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa Tengahan (1476-1715) dan bahsa Jawa baru (1715-sekarang).

2.2.4 Zaman Indonesia Merdeka
          Pada zaman Indonesia merdeka wayang merupakan suatu pertunjukan kesenian. Suatu seni teater total, yang berfungsi tidak saja sebagai hiburan tetapi juga untuk pendidikan, komunikasi massa, pendidikan kesenian, pendidikan sastra, filsafat, agama, dan lain-lainnya. Wayang-wayang baru mulai dipertunjukan, seperti wayang Suluh, Pancasila, dan Perjuangan (+ 1947), Wayang Wahyu (+ 1969), Wayang berbahasa Indonesia, dan lain-lainnya.

2.3 Fungsi-fungsi Wayang
          Wayang memiliki fungsi-fungsi yaitu fungsi religius, pendidikan, penenrangan, kritik social dan fungsi hiburan. Selain fungsi-fungsi tersebut, wayang memiliki fungsi-fungsi teatrikal diantaranya adalah:

2.3.1 Wayang Sebagai Suatu Teater Total
            Dibanding dengan drama-drama dan teater-teater ini wayang tampak jauh lebih total. Isinya maupun cara pementasannya. Meskipun ketotalan wayang ini tidak dalam bentuk kuantitatif (karena penulisan dan pemangungan cerita-cerita wayang menurut aturan-aturan klasik tertentu), tetapi dalam bentuk kualitatif. Lakon wayang umumnya, kecuali lakon-lakon “Bharatayudha”, memang ditulis menurut suatu struktur klasik yang tidak banyak variasinya. Namun dalam keterbatasan cerita-cerita wayang menceritakan hampit seluruh aspek kehidupan manusia dan hampir seluruh kodrat kebinatangan dan kemalaikatannya. Masalah pokok dan tema yang dibahas dalam wayang hampir tidak ada batasnya. Mulai masalah-masalah kehidupan manusia sebagai pribadi, makhluk social maupun sebagai hamba Tuhan. Masalah-masalah dan tema-tema ini mengandung elemen-elemen tragic, komik maupun tragic-komik dan diekspresikan dalam gaya bahasa klasik, romantis, tetapi juga realistis dan absurd. Dan bahasa yang dipakai dalam drama-drama lainnya.

2.3.2 Wayang Sebagai Sastra Lakon
            Dalam sejarah teater dunia barangkali sejarah lakon wayang adalah sejarah yang paling amat kacau. Kekacauan ini terjadi karena dalam sejarah perkembangannya yang sudah amat tua, telah melalui berbagai acara kebudayaan dan dengan demikian telah menyerap sekian banyak pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan itu. Termasuk cerita-cerita yang kemudian dipakai dalam lakon wayang. Cerita-cerita ini diambil dari mitos-mitos lama, legenda-legenda, cerita-cerita rakyat dan juga cerita-cerita dari kitab sastra. Dalam pencampuran sekian banyak pengaruh budaya ini percampuran cerita-cerita wayang pun tidak mungkin dapat dihindarkan. Disini berlaku pula prinsip sinkretisme dan mozaikisme. Setiap kebudayaan baru datang, datang pula cerita-cerita baru, sedang cerita-cerita lama tidak dibuang, hanya ditambahkan atau diadakan penyesuaian-penyesuaian. Kekacauan terjadi karena penyesuaian-penyesuaian ini tidak selamanya cocok dan menimbulkan hal-hal yang aneh-aneh dan lucu-lucu dan anakronis.

2.3.3 Wayang Sebagai Teater Hubungan antara Dalang, Penonton, dan Tuhan.
            Tater, kata Grotoswki (Toward the Poor Theater) terdiri dari dua unsur pokok, actor dan penonton. Para actor menyuguhkan teater sebagai suatu karya seni yang memberikan kepada penonton suatu santapan rohani yang bermanfaat bagi penonton. Rasa haru yang dihasilkan oleh drama-drama tragedy dapat memberikan sesuatu katharsis (pembersihan) kepada jiwa manusia, seperti kata Aristoteles. Rasa kepercayaan kepada diri sendiri bahwa manusia bias mengatasi segala masalahnya sperti yang dihasilkan oleh drama-drama komedi dapat memberikan suatu dorongan yang positif kepada semangat hidup manusia.
            Santapan ini juga bisa bersifat intellectual, berupa ide-ide baru yang dapat memperluas pandangan hidup manusia. Drama-drama klasik Yunani mengajarkan betapa terbatas kekuatan manusia sebagai makhluk. Shakespeare berbicara tentang betapa kondrat manusia bisa membuatnya begitu angung tetapi juga begitu tengik, Chekov berbicara, betapa manusia dengan segala kegagahannya sesungguhnya adalah makhluk yang perlu dikasihani, Shaw dan ibsen berbicara betapa kekuatan-kekuatan social masyarakat manusia dapat membentuk pribadi manusia. Bockett, icnesco, dan lain-lain dramawan absurdis berbicara betapa tidak berartinya hidup manusia, dan demikian seterunya. Santapan ini juga bersifat religius, berupa ide-ide yang bisa menyentuh rasa keagamaan manusia. Drama-drama klasik Yunani berbicara tentang keterbatasan kekuatan manusia terhadap kekuaaan Tuhan.
            Drama-drama keagamaan abad pertengahan berbicara tentang keterbatasan manusia dalam menuruti perintah-perintah Tuhan, dan seterusnya. Drama-drama klasik Yunani mengajar manusia percaya kepada diri sendiri. Santapan yang diberikan teater bisa juga bersifat artistic dan estetis. Karya teater yang baik selalu mendidik manusia menjadi lebih peka terhadap diri sendiri, erhadap alam, terhadap masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya. Demikian pada akhirnya, teater selalu berakhir dengan tindakan etis. Inilajh santapan teakhir yang ingin diberikan oleh teater. Teater ingin mendidik orang-orang sendiri dan penonton menjadi manusia etis yang mau ikut bertanggung jawab terhadap yang terjadi di dunia. Teater memang tidak ingin merombak dunia secara revolusioner, tetapi paling tidak seperti juga Budha, teater ingin mengubah melalui hati masin-masing manusia.
            Wayang, sebagai teater, mempunyai fungsi yang sama dengan tetaer-teater pada umunya, yakni memberikan santapan-santapan yang bersifat psikikologis, intellectual, religius, filosofis, estetis, dan etis. Bedanya hanyalah bahwa wayang ridak memisah-misahkan fungsi-fungsi ini. Wayang memberikan hiburan yang sehat bagi penontonnya. Unsur-unsur tragedy, komedi, dan tragic-komedi ada yang dalam wayang. Pencipta yang mengharukan, dilema-dilema yang amat berat, pengorbanan-pengorbanan besar dan hiburan-hiburan ringan berupa lawakan-lawakan, semua ada dalam wayang. Ajaran-ajaran dalam wayang seperti ajaran hastabrata, dewa ruci dan lain-lain, juga dapat merupakan topic-topik hangat bagi pembicara-pembicara intellectual. Sedang santapan filosofis, religius, estetis, dan etis merupakan santapan yang paling dominan dalam wayang. Berbeda dengan drama barat, yang hanya menganggap penting unsur-unsur actor dan penonton, wayang menganggap bahwa ada unsur yang lebih penting, dari itu semua adalah Tuhan.
“Wayang tidak ada, actor dan penonton tidak ada kalau tidak ada Tuhan atau kalau Tuhan tidak memperkenankan ada mereka.”2
Dalam setiap pertunjukkan Wayang, penonton memang bebas menyatakan pendapat mereka atau komentar mereka, tetapi komentar-komentar ini tidaklah sampai kepada keinginan untuk misalnya menggantikan Ki dalang dalam mewayang yakni apabila penonton menganggap Dalangnya tidak becus. Struktur wayang itu sendiri merupakan lambang kehidupan manusia mulai dari masa kanak-kanak sampai ke masa tua. Pembagian struktur menjadi bagian-bagian patet nem, patet sanga, dan patet manyura merupakan    lambang   perkembangan   manusia   tadi.  Dalam   bagian patet man misalnya, penggunaan gending-gending cucur bawuk, pare anom, ladrang srikaton, katawang sukma ilang yang dilanjutkan dengan ayakan-ayakan mayura, dan sampak, melambangkan perkembangan anak dari bayi sampai ke dewasa (Tjittawardaya, wawancara, 1979). Juga alat-alat pertunjukkan wayang dipakai sebagai lambang-lambang. Untuk menunjukkan watak-watak ini wayang menggunakkan apa yang dinamakan wanda, yakni ekspresi watak sesuatu boneka wayang yang diekspresikannya sendiri (watak gajah sombong, atau kurang ajar sombong diekspresikan dalam bentuk jarak kaki yang lebar). Juga peralatan panggung dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukkan wayang melambangkan hidup manusia dunia. Yang empunya kerja (yang menyelenggarakan pertunjukan wayang melambangkan Tuhan, karena tanpa kehendakNya, tak ada pertunjukkan wayang. Dalang melambangkan pelaksana kehendak Tuhan.
            Berbeda dengan drama-drama lain yang melibatkan begitu banyak pekerja teater seperti actor, sutradara, piƱata artistic dll. Maka wayang hanya mempunyai seorang dalang yang harus mengerjakan hampir seluruh kerja mewayang itu. Drama pedaling meliputi bidang-bidang sanggit, rasa (aspek estetis), banyol (lawakan), antawacana (penggunaan suara bagi pelaku yang berbeda-beda), udanegara (kepandaian menerapkan percakapan, menrapkan tatak rama serta gerak gerik wayang menurut tingkat, umur dan silsilah), unggah-ungguh (etika).
            Dalang yang baik dapat menguasai sepuluh keterampilan, yakni: regu (mempunyai rasa luhur, wibawa, pada bagian patet nem), greget (memainkan rasa hati), sem (memainkan rasa asmara), nges (memainkan rasa sedih), ranggep (bersemangat selama pertunjukkan), antawacana, cucut (dapat menimbulkan rasa tawa), unggah-ungguh, tugug (jelas dan urut jalan ceritanya), dan trampil (cekatan dalam menjelaskan wayang, meringkas dan memperpanjang adegan dll) (najawirangka: 57; Soetrisno:4).

2.4 Macam-macam Wayang
            Dalam mencari Nilai-nilai luhur yang datang dari sumber-sumber Indonesia sendiri, bangsa ini mempunyai banyak pilihan: nilai-nilai itu bias dicari dari agama-agama besar atau kepercayaan yang ada (Hindu, Budha, Islam, Kristen dan aliran kepercayaan/kebatinan/mistisisme; dari system-sistem filsafat dan etika yang bersumber pada agama-agama besar tersebut) dan dari karya-karya seni (sastra, tari, senirupa, teater, musik dan lain-lain) yang mengandung ajaran-ajaran ketuhanan mengandung ajaran-ajaran ketuhanan filsafat dan etika. Salah satu bentuk karya seni yang dapat dipakai sebagai sumber pencarian nilai-nilai adalah seni wayang. Berikut macam-macam Wayang diantaranya adalah:

2.4.1 Wayang Kulit
            Didalam estetika hindu dikenal rumusan bahwa suatu hasil seni untuk bisa dikatakan inda dan berhasil harus memenuhi enam (sad) syarat, atau sekumpulan syarat yang terdiri atas enam bagian atau perincian (angga), karena itu rumusan itu disebut sad-angga.
  1. Rupabedha, artinya pembedaan bentuk. Maksudnya, bentuk-bentuk yang digambarkan harus segera dikenal oleh yang melihatnya.
  2. Sadrsya, artinya kesamaan dalam penglihatan. Maksundya, bentuk-bentuk yang digamarkan harus sesuai dengan ide yang terkandung didalamnya. Demikian juga misalnya sang Buddha Sakyamuni digambarkan dengan badan yang tegap dan kukuh karena tokoh ini melambangkan keteguhan batin dan kekuatan ajaran sucinya. Kalau kita terapkan pada wayang kulit, maka kita melihat bahwa sadrsya ini terdapat misalnya antara watak Janaka yang rendah hati dan selalau siaga dengan wujudnya yang luruh tangguh itu; antara watak Kresna yang cerdik dan waspada dengan wujudnya : Leher condong dengan muka terangkat lurus kedepan; antara Durna yang licik dengan raut mukanya yang serba berkerinyut, dan seterusnya. Bahkan lebih terperinici lagi, keadaan-keadaan batin tertentu dari beberapa tokoh utama wayang digambarkan dalam wujud-wujud dengan nuansa yang berbeda-beda, yang disebut wanda.
  3. Pramana, artinya sesuai dengan ukuran yang tepat. Sebagai konsekuensi prinsip sadrsya maka tradisi menentukan patokan menegenai ukuran-ukuran dari tokoh-tokoh mitologis yang pada dasarnya adalah perwujudan dari ide-ide tertentu. 
Perbandingan antara besarnya Syiwa dan Parawati harus sesuai dengan kedudukannya sebagai dewa utama dengan istri yang merupakan pesertanya tetapi juga sumber kekuatannya. Perbandingan antara panjang muka dengan tinggi dada dan panjang kaki: ukuran dan perbandingan ini diatur misalnya dengan aturan talamana, yaitu pengukuran dengan tala (= jengkal) sebagai unit pengukur terbesar, yang masih diperinci atas unit-unit yang lebih kecil, seperti anggula yang panjangnya seperdua belas tala.
  1. Wanikabhangga, yaitu penguraian dan pembikinan warna. Di dalam seni lukis dan juga dalam seni rupa wayang kulit, sudah tentu warna mempunyai peranan yang penting. Syarat ini adalah meliputi pembuatan warna-warna dasar dan penyediaan alat-alat lukis, pencampuran warna, dan pemakaian warna secara tepat.
Unsur-unsur wadag dalam seni lukis adalah garis dan warna, karena itu kedua-duanya harus diatur dengan setepat-tepatnya. Dalam hal ini tradisi menetapkan pramana sebagai norma pengendali garis, warnikabhangga sebagai norma pengatur warna.
  1. Bhawa, bias diartikan sebagai suasana dan sekaligus pancaran rasa. Suasana dan pancaran rasa ini, misalnya suatu suasana sedih, haruslah dinyatakan dengan jelas, sehingga si penikmat seni bias diantar melalui jalur yang tak meragukan kea rah perasaan yang dimaksudkan.
  2. Lawanya, berarti keindahan, daya pesona. Seperti halnya dengan bhawa, lawanya ini pun adalah suatu kualitas yang ditentukan oleh bakat dan bukan semata latihan ketrampilan dari si seniman. Dengan kehadiran lawanya, suatu hasil seni akan menimbulkan kesan yang dalam pada si penikmat, bahkan bias mempengaruhi batinya.
Demikian juga dalam seni rupa wayang kulit kita sering menjumpai karya yang memancarkan pembawaan tertentu. Kita tahu, bahwa dalam wayang kulit seluruh bagian dari si tokoh wayang telah mempunyai perincian dengan penentuan pola-polanya, sehingga si seniman seolah-olah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk kreatif.
Demikianlah perumusan tentang syarat-syarat keindahan dalam kesenian Hindu.

Norma “menyimpang” di daerah pinggiran.
            Wayang termasuk pertunjukkan yang digemari rakyat Jakarta, dengan catatan: apabila ini dimainkan di panggung orisinilnya.
”Di TIM, yang menonton pertunjukkan ini sampai selesai sampai melek hanya seorang Jakarta yang tua dan empat orang dari FSUI. Bahwa di dalam penyajian orisinilnya ada partisipasi penonton, terlihat dari adanya sahut-menyahut antara dalang dan orang lain dalam jenis dialog yang bersifat ‘nguda rasa’ (bicara dengan diri sendiri).”3
 
Dalam pertunjukkan yang kita bicarakan ini, sahut-menyahut adalah anatara dalang dan salah satu pemain gamelan berganti-ganti. Dikatakan mereka tidak berlatih sebelum pertunjukkan, sehingga bias diduga bahwa sahut-menyahut ini terjadi atas jalur-jalur soal-jawab yang sudah umum dikenal di dalam masyarakat, jadi juga bias dilakukan oleh penonton yang cukup cepat daya tanggapnya.
            Musik pengiring wayang ini berlaras slendro, memainkan lagu yang tidak berganti-ganti, hanya kadang-kadang dimainkan dengan trompet kadang-kadang tidak. Alat musik yang lain adalah: kromong dengan 10 nada, kedemung dengan 7 nada, dua saron dengan 5 nada, dua ketuk, satu kempul dan satu gong.
            Adapun sumber cerita yang dimainkan oleh Wayang Jakarta ini bermacam-macam: bias dari galur, yaitu tradisi, bias dari komik; sedang yang dimainkan di TIM ini, cerita Gatutkaca kawin, adalah sanggitan dari gurunya dalam Bonang sendiri. Tema utama dalam cerita ini adalah: menuju perkawinan dengan karnawati, anak Karna; variasi-variasinya adalah: 1) Gatutkaca ingin kawin karena sudah besar, tetapi ayahnya dan juga Arjuna tidak setuju dengan alas an tenaga Gatutkaca masih banyak diperlukan dalam membangun Negara, sedang alau sudah kawin tentu perhatian pada pekerjaan tidak penuh.
            Dalam seluruh ‘cerita’ dalang menggunakan bahasa Indonesia, demikian juga dalam dialog, hanya dalam dialog yang bersifat gecul (jenaka) digunakan juga bahsa Jakarta. Tokoh-tokoh ini selalu memakai bahasa Indonesia yang ‘baik’ dengan tetap memakai kata-kata misalnya “sampeyan” yang dimaksudkan untuk meyakinkan suasana ke-wayang-annya, dan ini tidak terasa janggal.

Kemungkinan Pengindonesiaan
            Meng-indonesia-kan Wayang Purwa (Jawa) bukanlah berarti semata-mata mengalih-bahasakan pakem-pakem pedalangan Jawa ke dalam Bahasa Indonesia. Tetapi, pengindonesiaan Wayang Purwa hanya akan memuaskan dalam arti bertahan dalam nilai artistiknya, apabila dikerjakan oleh seorang dalang, jadi matang dalam rasa cita pedalangan pada seluruh unsur-unsurnya, yang mempunyai kemampuan sastra dalam memakai bahasa Indonesia.
            Masih dalam bidang bahasa, ada suatu hal yang akan hilang apabila Wayang Purwa diindonesiakan, yaitu unggah-ungguh bahasa. Akan hilang kemungkinan untuk memainkan unggah-ungguh dalam situasi-situasi cerita tertentu untuk menambah efek dramatik misalnya. Dalam permainan biasa, akan timbul pula persoalan mengenai bagaimana misalnya memebedakan bahasa yang dipakai oleh Duryudana kepada Sakuni, Durna kepada Yudistira, Arjuna kepada Kresna Sembadra kepada siapa saja dan seterusnya yang masing-masing mempunyai gaya tersendiri.
            Yang berjalinan erat dengan bahasa adalah seni rupa dan karawitan Wayang Purwa yang juga telah amat terkembang dengan gradasi maknanya, modulasinya. Dalam hal ini tak dapat diambil contoh dari Wayang Jakarta karena di sini rupa-rupanya rasa tidak terlalu diburu.

2.4.2 Wayang Golek
            Wayang telah lama hidup di Indonesia. Semasa masih ada kerajaan Pajajaran pun seni Wayang telah hidup. Dalam kehidupannya di Jawa Barat kesenian Wayang Golek difungsikan dalam dua bentuk pergelaran, yaitu untuk hiburan dan untuk ruatan (upacara ritual). Bagi masyarakat Jawa Barat, kecuali Cirebon dan Indramayu, Wayang Golek purwa bias disebut dengan Wayang Golek saja. Bagi masyarakat Cirebon dan Indramayu selain dikenal Wayang Golek Purwa dikenal pula Wayang Golek Cepak dan Wayang Kulit Purwa.
            Wayang Golek Purwa adalah seni pertunjukkan wayang. Wayangnya terbuat dari bahan kayu menyerupai bentuk tubuh manusia. Boneka dari kayu ini lazim pula disebut golek. Oleh karena itu wayangnyapun disebut Wayang Golek  sedangkan wayang yang terbuat dari bahan kulit disebut Wayang Kulit.
            Dimanapun pergelaran Wayang Golek berlangsung, tata pentasnya hamper tetap sama yaitu adanya suatu panggung yang agak luas dengan ukuran sekitar 5x5x1 meter. Dalang duduk terdepan panggung (bagian tengah). Dibagian kiri dalang diletakkan kotak, yaitu peti dari kayu tempat penyimpanganan seluruh wayang yang akan digunakan. Sebagian wayang yang akan difungsikan sebagai dekorasinpanggung bagian depan. Istilah dalam pedalangan disebut dijantur. Wayang-wayang tersebut dipasang secara rapi dengan posisi berdiri pada alas yang berupa batang pohon pisang yang ditempatkan sejajar disebelah kiri kanan dalang. Di depan dalang dipasang lagi dua batang pohon pisang sepanjang + 1 meter dengan ketinggian + 50 cm. Kedua batang pohon pisang tersebut dinamakan jagat, yaitu tempat berlangsungnya dengan adegan cerita yang dilakonkan. Pada jagat diletakkan dua buah gugunungan, yaitu lambing alam yang isinya diukir dalam kulit sapi dengan warna cat. Dibagian pinggir kotak, diletakkan bebrapa potongan logam besi yang digantung tepat dibagian lutut dalang sebelah kiri jika duduk bersila. Alat dari bahan besi-besi tersebut dinamakan kecrek. Fungsinya sebagai pengatur irama gamelan, dibunyikan dengan cara diinjak-injak oleh dalang melalui telapak kakinya yang kanan. Disamping kecrek fungsi komodo lainnya menggunakan alat pemukul yang disebut cempala. Membunyikan pukulan cempala dengan cara dipukulkan ke bagian dalam kotak, kadang-kadang silih berganti dengan bunyi kecrek membuat aksen music melengkapi bunyi gamelan.

Proses penampilan Wayang Golek Purwa
            Wayang golek purwa lazim dipergelarkan dalam berbagai arena panguung. Dalam panggung hajatan (pribadi), posisi dalang selalu menghadapi bagian depan rumah yang punya hajat.
Posisi duduk setelah dalang yaitu juru rebab dibelakangnya. Disebelah juru rebab duduk para pesinden dan wira suara. Dibelakangnya lagi duduk juru kendang berjajar dengan juru saron dan peking serta selentem. Di sudut kanan belakang biasanya tempat kenong, sedang disudut kiri belakang ditempatkan boning. Gambang berada di bagian depan sebelah kanan.
Menarik tidaknya suatu pergelaran Wayang Golek bagi para penonton, tergantung pada kualitas para senimannya. Terutama yang paling menentukan adalah dalangnya sendiri. Untuk saat ini dalang-dalang wayang golek purwa terkenal antara lain; Asep Sunandar Sunarya, Ade Kosasih Sunaryadan Iden Sunarya dari Giriharja Jelekong Bandung, R. H. Cecep Supriadi dari Karawang, dan Endang Taryana di Cianjur. Dede Amung Sutarya dari perkumpulan Nunggal Pawenang Padasuka Bandung. Pesindennya antara lain; H. Ijah Hadijah dan Yoyoh Supriatin dari Karawang, Cicih Cakurileung dari Subang, Ai Hayati dari Bandung dll.
Dalam pergelaran untuk keperluan apresiasi disesuaikan dengan kebutuhan, mungkin 1 jam atau 2 jam seperti halnya tayangan di Televisi, yang disebut pergelaran padat.

2.4.3 Wayang Orang
            Wayang orang juga disebut dengan istilah Wayang Wong (Bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang adalah seni drama tari yang mengambil  cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya.
Sesuai dengan namanya, wayang ini tidak lagi dipergelarkan menggunakan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi mereka menggunakan orang-orang atau manusia sebagai pelakonnya. Manusia-manusia yang memerankan sebuah lakon dalam wayang orang ini memakai hiasan-hiasan dan pakaian-pakaian yang sesuai dan mirip dengan boneka-boneka lakon wayang. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang diubah/dihuas mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan. Dalam segi cerita, wayang orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Pada mulanya, yakni pertengahan abad ke-18, semua penari Wayang Orang adalah penari pria, tidak ada penari wanita. Jadi agak mirip dengan pertunjukkan ludruk di Jawa Timur saat ini.
            Dalam buku mengenai budaya wayang disebutkan, wayang orang diciptakan oleh Kangjeng Pangeran Adipati Arya Mangkunegara (1757-1795). Para pemainnya waktu itu terdiri atas abdi dalem istana.
            Pertama kali Wayang Orang dipentaskan secara terbatas yaitu pada Tahun 1760. Namun, pada waktu pemetintahan Mangkunegara V merasa bahwa pertunjukkan Wayang Orang ini lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Orang hamper bersamaan waktunya dengan lahirnya tari Langendriyan.
            Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916-1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan kepada masyarakat diluar tembok keraton. Usaha kemasyarakatan kesenian ini makin ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekembang, Taman Sri Wedari, dan di pasar malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.
            Penyelenggaraan pertunjukkan wayang orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi konges kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali wayang orang masuk dalam siaran radio, yaitu Solosche Radio Vereening, yang mendapat sambutan hebat dai masyarakat. Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hanengku Buwana VII (1877-1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Orang di Yogyakarta untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa – Pregiwati. Wayang Orang di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.
            Sejalan dengan perkembangan Wayang Orang, terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.
Karena ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di`kebon raja' yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Di Jakarta, pada tahun 1960 - 1990, pernah pula berdiri beberapa perkumpulan Wayang Orang, di antaranya Sri Sabda Utama, Ngesti Budaya, Ngesti Wandawa, Cahya Kawedar, Adi Luhung, Ngesti Widada, Panca Murti, dan yang paling lama bertahan Bharata.
Pentas seni Wayang Orang juga melahirkan seniman-seniman tari yang menonjol, antara lain Sastradirun, Rusman, Darsi, dan Surana dari Surakarta; Sastrasabda dan Nartasabda dari Semarang; Samsu dan Kies Slamet dari Jakarta.
Pertunjukkan Wayang Orang diantaranya:
1)      Ketoprak
2)      Legendriyan
3)      Ludruk
4)      Wayang Golek
5)      Wayang Kulit

BAB 3 NILAI-NILAI ETIS DALAM WAYANG

            Dalam lakon ataupun bentuk-bentuk wayang kita dapat menemukan Nilai-nilai etis, diantaranya adalah:
  1. Nilai “Kesempurnaan Sejati”
  2. Nilai “Kesatuan Sejati”
  3. Nilai “Kebenaran Sejati”
  4. Nilai “Kesucian Sejati”
  5. Nilai “Keadilan Sejati”
  6. Nilai “Keagungan Sejati”
  7. Nilai “Kemercusuaraan Sajati”
  8. Nilai “Keabadian Sejati”
  9. Nilai “Keteraturan Makrokosmos Sejati”
  10. Nilai “Keteraturan Mikrokosmos Sejati”
  11. Nilai “Kebijakan Sejati”
  12. Nilai “Realita dan Pengetahuan Sejati”
  13. Nilai “Kesadaran dan Keyakinan Sejati”
  14. Nilai “Kekasihsayangan Sejati”
  15. Nilai “Ketanggungjawaban Sejati”
  16. Nilai “Kehendak, Niat dan tekad Sejati”
  17. Nilai “Keberanian, Semangat dan Pengabdian Sejati”
  18. Nilai “Kekuatan Sejati”
  19. Nilai “Kekuasaan, Kemandirian dan Kemerdekaan Sejati”
  20. Nilai “Kebahagiaan Sejati”

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
          Ada sedikit kerancuan dalam menentukan asal usul wayang, (Moeburman, 1960: 21; Brandon, 1970: 3). Sementara para Sarjana mengatakan, wayang berasal dari Indonesia (Jawa), ada juga yang mengatakan dari India, lainnya mengatakan bahwa wayang adalah produk Hindu-Jawa. Kerancuan ini diakibatkan dengan kekuarangannya fakta-fakta yang mendukung dari asal-usul wayang tersebut. Namun sejumlah ahli mengatakan bahwa “Sesuatu ekspresi kemanusiaan tak dapat dipisahkan dari kultur yang menghidupinya, karena ia mempunyai arti apabila ia berfungsi dalam struktur social masyarakat dari kultur itu (Koentjaraningrat: 376-82). Jika teori ini diterapkan kedalam asal-usul wayang itu sendiri, maka wayang tentunya berasal dari Jawa karena wayang hidup dan berfungsi dalam masyarakat Jawa saja.
            Meskipun asal-usul wayang belum pasti, para penulis Indonesia cenderung mengikuti teori Hazeau yang mengatakan berasal dari suatu upacara keagamaan untuk memuja arwah nenek moyang yang disebut Hyang. Atas dasar inilah mereka menyusun periodisasi perkembangan wayang di Indonesia. Berdasarkan sumber karangan Mulyono (1978; 296-306) berikut ini perkembangan wayang sesuai dengan periodisasinya:
  1. Zaman Prasejarah
  2. Zaman Jawa Timur
  3. Zaman Kedatangan Islam
  4. Zaman Indonesia Merdeka
Wayang memiliki fungsi-fungsi yaitu fungsi religius, pendidikan, penenrangan, kritik social dan fungsi hiburan. Selain fungsi-fungsi tersebut, wayang memiliki fungsi-fungsi teatrikal diantaranya adalah:
  1. Wayang sebagai suatu teater total
  2. Wayang sebagai sastra lakon
  3. Wayang sebagai teater hubungan antara Dalang, Penonton dan Tuhan
Macam-macam wayang:
  1. Wayang Kulit
  2. Wayang Golek
  3. Wayang Orang
Nilai-nilai etis dalam wayang:
  1. Nilai “Kesempurnaan Sejati”
  2. Nilai “Kesatuan Sejati”
  3. Nilai “Kebenaran Sejati”
  4. Nilai “Kesucian Sejati”
  5. Nilai “Keadilan Sejati”
  6. Nilai “Keagungan Sejati”
  7. Nilai “Kemercusuaraan Sajati”
  8. Nilai “Keabadian Sejati”
  9. Nilai “Keteraturan Makrokosmos Sejati”
  10. Nilai “Keteraturan Mikrokosmos Sejati”
  11. Nilai “Kebijakan Sejati”
  12. Nilai “Realita dan Pengetahuan Sejati”
  13. Nilai “Kesadaran dan Keyakinan Sejati”
  14. Nilai “Kekasihsayangan Sejati”
  15. Nilai “Ketanggungjawaban Sejati”
  16. Nilai “Kehendak, Niat dan tekad Sejati”
  17. Nilai “Keberanian, Semangat dan Pengabdian Sejati”
  18. Nilai “Kekuatan Sejati”
  19. Nilai “Kekuasaan, Kemandirian dan Kemerdekaan Sejati”
  20. Nilai “Kebahagiaan Sejati”

4.2 Saran
            Kami sebagai penyusun, memberikan saran diantaranya:
  1. Wayang merupakan kebudayaan Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO sejak lama. Maka, kita sebagai rakyat Indonesia harus melestarikannya agar tetap ada dimasa yang akan dating.
  2. Hidupkan dan kembangkan Wayang sebagai totontonan moral bagi pendidikan-pendidikan remaja dewasa kini.
  3. Mari kita terapkan nilai-nilai etis dan moral yang terkandung dalam wayang itu sendiri.
                               CATATAN KAKI

1Hazim Amir, Nilai-nilai Etis Dalam Wayang:hlm.25
2 Hazim Amir, Nilai-nilai Etis Dalam Wayang:hlm.78
3Edi Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukkan:hlm.22

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Hazim. 1991. Nilai-nilai Etis Dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: PT. Pustaka Sinar Harapan.
Soepandi, Atik dkk. 1995. Ragam Cipta. Bandung: CV. Beringin Sakti.